Saat bicara tentang “spiritualitas” banyak diantara kita yang kemudian akan memiliki asosiasi mental yang menegasikan kata tersebut dengan kehidupan duniawi. Dua hal yang nampak berseberangan memang, antara mereka yang menjalani kehidupan spiritual dengan mereka yang menjalani kehidupan duniawi. Mereka yang menjalani kehidupan spiritual adalah mereka yang mengabdikan kehidupannya untuk melakukan tapa-bratha-yoga-samadhi, memakai pakaian khusus (serba putih), dengan aturan kehidupan khusus (apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sampai pada apa yang boleh dan tidak boleh dimakan). Sementara mereka yang menjalani kehidupan duniawi adalah mereka yang sibuk dengan aktifitas kehidupan; berjualan, bekerja, bersosial dan menikmati kenikmatan duniawi. Sepintas, nampaknya memang demikian, dan sepintas itulah penggambaran kebanyakan orang tentang kehidupan spiritual dan kehidupan duniawi.

Namun, di Bali sepertinya hal seperti itu tidak menjadi aturan baku. Spiritualitas masyarakat Bali sepertinya lebih didasarkan pada “cara menjalani aktifitas” bukan “jenis aktifitasnya” sendiri. Kehidupan spiritual dengan kehidupan duniawi sepertinya bukan dua hal yang bertentangan dan tidak perlu dipertentangkan. Misalkan saja, ada teks lontar Dharma Pemaculan, dikhususkan untuk para petani. Lalu ada teks Dharma Kepandean untuk para Pandé, Dharma Pedalangan untuk para Dalang, Asta Kosala-Kosali untuk tukang bangunan (arsitek), sampai Dharma Kepanditan dan Siwa Sesana untuk para pendeta. Dari judul, isi dan peruntukan teks-teks tersebut kita bisa menganalisa bahwa setiap laku kehidupan, setiap aktifitas, setiap gerak kehidupan bisa dijadikan sebagai jalan spiritual, karena spiritualitas adalah soal spirit dalam menjalani aktifitas tersebut, bukan serta merta aktifitas baru.

Bagi seorang petani, tempat ber-yoga-nya adalah di sawah, bagi seorang Pande Besi, maka tempat ber-yoga-nya adalah di perapian, bagi seorang pedagang, tempat ber-yoga-nya adalah di pasar atau warung, berbeda halnya dengan seorang Pertapa yang tempat beryoganya adalah di hutan (tapowana), berbeda dengan seorang Pandita yang aktifitas spiritualnya adalah melakukan puja dan persembahyangan. Di titik ini kita bisa membaca, kalau leluhur Bali memetakan spiritualitas bukan sebagai “kebalikan” dari kehidupan duniawi, namun sebagai spirit dalam menjalani kehidupan (swadharma) masing-masing, menjalankan sesana masing-masing. Semua kegiatan, di semua tempat, untuk semua profesi bisa menjadi spiritual asal dilandasi dengan spirit ketuhanan.

Namun di masyarakat sekarang agaknya kita melihat fenomena yang berbeda. Banyak orang “tiba-tiba menjadi spiritual”, lalu cara berpakaiannya diganti, aktifitas hidupnya berubah; kemana-mana pakai pakaian putih, rambut dipanjangkan untuk diikat, bahkan pekerjaan terbengkalai demi melakukan perjalanan suci ke berbagai Pura dan Candi. Tidak jarang, sampai nama pun berubah. Tentu saja, tidak berarti hal ini salah, namun jika kembali ke kesimpulan awal bahwa spiritualitas yang diwariskan leluhur adalah didasarkan pada sesana dan swadharma masing-masing, maka tentu saja meninggalkan swadharma atas nama spiritualitas justru adalah hal yang tidak spiritual (misalkan meninggalkan swadharma sebagai pedagang karena keburu nafsu ingin menjadi pendeta).

Sebagai contoh misalkan, seorang pedagang. Jika ia berjualan dilandasi spirit mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya, maka ia bisa jadi akan memakai cara-cara licik dalam mengupayakan hal tersebut. Dia berjualan dan hanya mengupayakan keuntungan untuk dirinya sendiri; jika orang lain dirugikan, tidak mengapa. Sebaliknya, jika seorang pedagang berjualan dengan dilandasi spirit yang spiritual, maka berjualan menjadi upaya ngayah, berjualan adalah caranya melayani orang lain, membantu orang lain lebih mudah mendapatkan hal-hal yang mereka butuhkan, dengan kualitas yang lebih baik. Prioritasnya adalah melakukan pelayanan pada orang lain, menebar welas asih pada sekitar, tanpa mengabaikan keuntungan yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari berjualan. Dari contoh ini kita bisa melihat, satu aktifitas bisa dilakukan dengan dua spirit berbeda.

Tentu saja, kehidupan adalah pilihan. Siapa saja boleh memilih menjalani kehidupannya dengan cara apa saja. Tujuan artikel ini ditulis hanya sekedar sebagai pengingat, bahwa spiritualitas di Bali didasarkan pada swadharma yang dijalani dengan sebaik-baiknya, swadharma yang dijalani dengan menjaga keseimbangan (tri hita karana), bukan serta-merta busana tertentu. Spiritualitas adalah soal “jiwa”, soal “di dalam”, bukan soal apa yang ditampilkan “di luar”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *