Dalam menyebut sesembahannya, masyarakat Bali memiliki banyak predikat dan istilah. Beberapa diantaranya adalah Bhaṭāra-Bhaṭāri, Dewa-Dewi dan Sang Hyang. Ketiga istilah tersebut kadang membingungkan dan memunculkan banyak tanda tanya. Tidak jarang kemudian, tanda tanya memunculkan jawaban yang malah semakin membingungkan.

Kata Bhaṭāra yang dipakai dalam Bahasa Jawa Kuno (dan Bali) berasal dari Bahasa Sanskerta, Bhaṭṭāraka, yaitu julukan yang dipakai untuk segala hal yang dihormati; para raja, brahmana atau orang-orang terpelajar, juga para dewa atau hal-hal yang dianggap suci dan layak dipuja. Penyebutan Bhaṭāra bisa dibilang sama dengan penyebutan “Yang Mulia”.

Selain dari asal-usul kata, kita bisa memahami arti kata ini dengan melihat bagaimana konteks pemakaiannya dalam berbagai pustaka. Dalam Pustaka Nagarakṛtāgama, para Raja sering kali disebut Bhaṭāra. Misalkan, Bhaṭāra ring Wĕngkĕr (Raja Wĕngkĕr), Bhaṭāra śrī Wiṣṇuwardḍana, pāduka Bhaṭāra Śrī Tribhuwanottungga rājadewī. Dalam pustaka yang sama, kata Bhaṭāra juga dipakai untuk menyebutkan berbagai aspek kedewataan, seperti; Bhaṭāra Wiṣṇu, Bhaṭāra Gurunātha, Bhaṭāra Narasiṅha. Dalam Kakawin Śiwaratrikalpa, Śiwalingga juga disebut sebagai Bhaṭāra. Bahkan prasasti pun sering disebut sebagai Bhaṭāra karena dihormati.

Kata “Sang Hyang” pun tidak jauh berbeda dengan kata Bhaṭāra, sama-sama berarti “yang dihormati”, “yang dipuja”, “yang disembah”, “yang melindungi”. Karena itu, kata Bhaṭāra dan Sang Hyang sering kali bisa saling menggantikan. Misalnya, Bhaṭāra Śiwa sering juga disebut sebagai Sang Hyang Śiwa, demikian pula dewa-dewi lain. Sama seperti kata Bhaṭāra, kata Sang Hyang juga bisa dijadikan predikat untuk menunjuk benda, misalkan di Bali populer istilah Sang Hyang Śāstra untuk menunjuk lontar, kitab atau ilmu agama. Dalam Nagarakṛtāgama, berbagai istilah terkait bisa ditemukan; Sang Hyang Trayodaśa sākṣi, Sang Hyang Ādigamaśāstrārodrĕta, Sang Hyang Rājapraśāsti, Sang Hyang Sarwwadharmma.

Jadi kata Bhaṭāra dan Sang Hyang adalah predikat atau julukan (sejenis dengan “jro”, “Ida”, “Ratu”, “Tuan-“, “Bapak -” dan “Ibu -”). Entitas yang ditunjuk oleh berbagai julukan tersebut adalah berbagai macam hal yang dianggap melindungi, suci dan mulia; segala yang dianggap sebagai objek pemujaan bisa disebut dengan Bhaṭāra dan Sang Hyang, misalkan Dewa-Dewi, Leluhur, Pustaka Suci dan lain sebagainya. Tentu saja, termasuk “sesembahan lokal” –yaitu berbagai entitas yang dipuja di wilayah tertentu seperti Bhaṭāra Gunung Agung, Bhaṭāra Dalem Peed, Bhaṭāra Celak Kontong dan lain sebagainya.

Manusia, Dewa dan Leluhur bisa disebut Bhaṭāra, sebagai penghormatan dan pemujaan. Bagi masyarakat feodal jaman dulu, seorang raja dipuja dan dianggap pelindung negaranya, karena itu disebut dengan Bhaṭāra atau Hyang. Para leluhur disebut Bhaṭāra (atau Hyang) karena diyakini telah ada dalam kesucian Niṣkala, sedangkan Para Dewa disebut dengan Bhaṭāra karena mereka adalah penguasa, pelindung dan aspek Niṣkala dari keberadaan sakala.

Dewa di Jaman Weda, Dewa Lokal dan Dewa Global

Kata Dewa berakar dari kata div, artinya “bercahaya”. Penyebutan ini disematkan karena pada awal peradaban Hindu (Jaman Weda) yang dijadikan sesembahan adalah segala hal yang bercahaya; Agni (api), Surya (Matahari), Bulan (Candra), Indra (Petir), Subuh (Dyaus), Bintang dan lain sebagainya. “Entitas Cahaya” ini lah yang oleh para Brahmana Weda dijadikan sebagai sesembahan utama. Pada Jaman Weda, para Dewa ini masih belum dimaknai sebagai “cahaya suci Ida Sang Hyang Widhi (Brahman)”, sebab Brahman sendiri adalah konsep yang baru berkembang seribu tahun setelahnya, di Jaman Upanishad dan matang pada masa Vedanta. Menariknya, konsep Tri Murti (Brahma, Viṣṇu, Śiva) juga belum ada pada Jaman Weda (atau setidaknya belum tertulis dalam Veda). Tentu saja, pembahasan mengenai sejarah peradaban Hindu tidak akan cukup dibahas dalam satu artikel.

Lalu bagaimana dengan “sesembahan Lokal” seperti Bhaṭāra Gunung Agung, Dewi Danu, Bhaṭāri Melanting, Bhaṭāra Dalĕm Peed dan banyak lagi?

Peradaban Hindu(-isme) memiliki sangat banyak sesembahan. Konsep bahwa Agama Hindu hanya memuja satu keberadaan tertinggi (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) adalah konsep yang relatif baru. Bahkan Hindu menjadi sebuah agama (-isme) pun adalah konsep baru. Hindu adalah sekumpulan agama, yang di dalamnya ada begitu banyak arus pemikiran dan sistem liturgi. Tidak jarang, satu dengan yang lain saling berseberangan dan saling berkonflik.

Sebagaimana disinggung sebelumnya, dewa-dewi yang saat ini dianggap utama (yaitu Tri Murti) pada awal peradaban Hindu (jaman Weda) justru tidak dikenal. Sedangkan Dewa-Dewi yang dulunya Dewata utama pada jaman Weda (Indra, Surya, Agni, dll), sekarang justru posisinya minor. Alasan perubahan ini adalah adanya perkembangan pemikiran dari Jaman Weda sampai India abad ke-15. Selain itu, karena adanya asimilasi antara Dewa-Dewi Weda (dalam hal ini Ṛg Veda) dengan Dewa-Dewi Lokal India. Beberapa sesembahan lokal (“non-Arya) tersebut seperti Śiva dan aspek-aspek Śakti. Asimilasi ini membuat sesembahan lokal kemudian dikaitkan dengan sesembahan Veda—Śiva dikaitkan dengan Rudra. Proses ini terutama terjadi pada jaman Puraṇa.

Hal ini menunjukkan bahwa peradaban Hindu adalah peradaban yang membumi, yang saling mengisi, saling melengkapi, saling menghormati buah pemikiran. Bukan dogma yang harus begini harus begitu.

Sama seperti di Bali, masyarakat Hindu di berbagai daerah juga memiliki dewa-dewi lokalnya; memiliki sesembahan yang khusus di wilayah tersebut. Di India misalkan, ada dewa-dewi yang tidak begitu dikenal selain di wilayahnya, seperti Ayyappan (Kerala) dan Mariyamman (Tamil Nadu). Tentu saja, sama seperti Śiva dan Kṛṣṇa, kemudian sesembahan lokal tersebut diakomodir ke dalam wadah besar bernama “Hinduisme”. Hal yang sama juga terjadi di Bali, saat Pura Dalĕm menjadi stana Dewa Śiwa, Pusĕh untuk Wisnu dan Pura Desa untuk Brahma. Singkatnya, di banyak daerah, dewa-dewi lokal akan dijadikan global, menjadi bagian tak terpisahkan dari Hinduisme.

Tidak Harus Menyembah Dewa

Dalam berbagai pustaka dan tradisi pemikiran Hindu, sesembahan tertinggi tidak selalu harus Dewa. Menyembah berbagai dewa-dewi secara bersamaan adalah spirit Ṛg Veda, menyembah salah satu dewa/ dewi sebagai ishtadevata adalah spirit Bhakti yang terinspirasi dari kepustakaan Puraṇa. Lalu para Vedantin (Penganut Vedanta) malah tidak menyembah dewa-dewi apa pun karena pandangan adanya Realitas Absolut yang melampaui dan lebih tinggi dari Dewa-Dewi. Sedangkan dalam tradisi Yoga, seorang Guru akan disembah melebihi Dewa/Dewi. Selain itu, dalam tradisi Yoga, India maupun Nusantara. Manusia dipandang bisa melampaui keluhuran Dewa/ Dewi. Tentunya, manusia yang sudah sangat mapan yoganya, yang sudah mencapai samādhi, sudah mengalami kesejatian diri sebagai Sang Hyang Paramaśiwa. Sederhananya, beda pandangan, beda sesembahan. Tidak pernah ada standar universal dalam tradisi Dharma.

Lalu kenapa ada yang mempermasalahkan “Bhatara bukan Dewa”, “kalau Dewa harus ini saja,” “itu bukan Dewa ini baru dewa”?

Sederhana, karena dia tidak paham. Celakanya, orang yang tidak paham malah merasa dirinya yang paling paham, dan merasa berhak memberi pemahaman. Spirit ini lalu diduplikasi oleh mereka yang lain, lalu menyebarlah kesalahpahaman massal.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa ada banyak materi yang perlu diajarkan di sekolah-sekolah dan universitas-universitas berlabel “Hindu”. Tentunya setelah universitas bersangkutan menyimpan spirit ke-Hindu-an yang benar, bukan malah berspirit agama sebelah.

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on twitter
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *