Dalam cerita tentang tokoh-tokoh Tantra selalu ada adegan dimana mereka melakukan dewāśraya, yaitu berserah diri di kuburan. Di Bali hal ini lebih dikenal dengan sebutan nyeraya. Mulai dari Sutasoma sampai Ni Garu dalam cerita Gede Basur, semua melakukannya.

Kuburan adalah pusat transformasi. Secara empiris, di kuburan lah tubuh mengalami proses peleburan, dikembalikan ke elemen-elemen dasar pembentuknya. Namun, bukan hanya transformasi mereka yang telah mati. Kuburan menjadi tempat transformasi bagi mereka yang masih hidup juga. Karenanya, para penganut Tantra melakukan yoganya di kuburan.

Umumnya, kuburan adalah tempat yang menakutkan. Konon, di sana ada berbagai mahluk menyeramkan. Bahkan Sang Dewi Kuburan pun adalah ratunya keseraman itu sendiri. Sebuah tempat gelap yang dilingkupi nuansa horror. Mungkin mereka yang melakukan nyeraya di kuburan adalah mereka yang hendak melampaui ketakutannya.

Ketakutan adalah salah satu kreasi pikiran. Proyeksi ego yang rapuh. Ego punya satu ketakutan besar, yaitu takut menjadi tidak ada. Takut hilang, musnah, mati. Kebalikan dari ketakutan ini adalah kecenderungan untuk selalu mengadakan diri. Kecenderungan untuk menunjukkan eksistensinya. Kedua kecenderungan ini, jika tidak dikelola dengan baik akan membuat ego selalu merasa terancam, selalu merasa terhina dan direndahkan.

Kuburan menjadi tempat yang menakutkan untuk ego karena dua hal. Pertama, karena di sanalah manusia meniada. Tempat bagi mereka yang mati. Kedua, karena di sana adalah pusat misteri. Ego selalu takut dengan hal yang tidak diketahuinya.

Tapi satu hal yang menarik diperhatikan adalah, dalam teks-teks kuno dikatakan bahwa di tubuh lah sebenarnya kuburan itu. Berbagai macam kuburan angker sejatinya adalah bagian-bagian tubuh berbeda. Kita tidak akan membahas jenis-jenis kuburan di tubuh. Namun, yang kemudian menarik diperhatikan adalah, jika kuburan ada di tubuh, maka di tubuh pula nyeraya bisa dilakukan. Kita tidak pernah melewatkan sedetik pun tanpa tubuh, itu artinya, dalam seluruh kehidupan lah nyeraya bisa dijalankan.

Lagi pula, tubuh dan kehidupan tidak kalah menyeramkannya dengan kuburan yang konon angker tersebut. Benar-benar berserah diri di sana bukan lah hal yang mudah. Setidaknya untuk banyak orang, membiarkan diri untuk ikhlas menerima segala hal yang mungkin terjadi adalah sebuah hal yang sulit.

Ego selalu ingin menjaga eksistensinya, dan salah satu cara menjaga eksistensi adalah dengan berusaha mengendalikan semua hal yang terjadi di sekitar. Dari kecenderungan tersebut lah kemudian manusia suka membuat rencana. Mulai dari hal terkecil sampai yang paling besar selalu direncanakan sematang mungkin. Setelah membuat rencana ego kita akan merasa nyaman, sebab ia merasa bisa mengendalikan apa yang akan terjadi.

Tapi, seberapa besar dari yang anda rencanakan benar-benar terjadi sebagaimana yang direncanakan? Seberapa banyak yang anda lalui benar-benar sesuai dengan yang anda angankan?

CATATAN:
Dikutip dari Buku Ilmu Tantra Bali (Buku 2) Halaman 183. Informasi selengkapnya dan Ebook Gratis, silahkan Klik Di Sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *