IBM Dharma Palguna menyebut guru bisa ditemukan dimana saja, jika seseorang telah benar-benar siap menjadi murid. Untuk meligitimasi ungkapan itu, ada contoh yang diajukannya. Sebut saja Ekalawya yang berguru kepada Drona. Bukan rahasia, bahwa Drona tidak mengangkatnya menjadi murid dengan alasan ini dan itu. Ekalawya juga berusaha membujuk Drona agar berkenan mengangkatnya menjadi murid dengan alasan itu dan ini. Sayangnya Ekalawya tidak menemukan yang dicarinya, yang dinantinya pun tidak datang. Drona tetap menolak.

Perihal guru, secara harfiah menurut kamus-kamus konon berarti berat. Pengertian ini oleh filsuf, disebutnya tepat, sebab menjadi guru bukanlah profesi yang ringan. Ketidakringanan menjadi guru, bisa ditanyakan kepada seluruh guru yang ada di dunia ini. Ada aturan yang mengikat perilaku guru, disebutnya kode etik. Ada juga pasal-pasal yang melilit guru, entah apa sebutannya. Kata guru yang berarti berat itu, menjadi tambah berat. Lebih lagi jika yang bersangkutan, adalah guru honorer yang rumahnya jauh dari tempat mengajar di pelosok desa dan harus melewati beberapa bukit untuk sampai, sementara untuk menghibur diri disebutnya “dekat saja”. Ungkapan “dekat saja” itu bisa berarti beberapa puluh kilo. Hiburan lainnya, hanyalah kata-kata untuk melipat jarak dan berusaha mendekat-dekatkan, “dekat atau jauh letaknya di pikiran!”.

Maka semakin beratlah makna yang diusung oleh sebutan guru, apalagi jika kemudian murid-murid mulai susah untuk diajar. Diajar berbeda dengan dihajar. Mungkin lebih tepatnya dididik. Bagaimana pun, pendidikan masih menjadi hal yang penting. Perhatian pada bidang ini, tidak dapat dikatakan tidak ada sebab oleh pemerintah telah dialirkan dana khusus untuk pendidikan. Entah apa sebabnya, masih saja ada ketimpangan. Jika ditanya sebab, orang lebih sering mencarinya di luar. Maksudnya, di luar tubuhnya sendiri. Jika tidak cukup, dicarinya di luar lingkungan tinggal. Semasih belum cukup, dicarinya lagi keluar-keluar-keluar sampai terluarnya luar. Luarnya luar sampai habis kemampuan pikiran membayangkan batas luar, mungkin saja sampai ke luar dari atmosfer bumi. Sampai di sana, yang ditemukannya hanya cahaya pada ruang gelap. Bukan sebaliknya.

Jangan salah, ruang penuh cahaya atau pun ruang gelap sama-sama bisa menjadi guru. Pada gelap orang belajar cahaya, pada cahaya orang belajar gelap. Sampai di titik itu, betul memang bahwa guru bisa ditemukan dimana saja. Pada saat yang sama, orang bisa menemukan murid. Murid itu bernama diri sendiri. Diri sendiri maksudnya bagian-bagian tubuh yang kasar maupun yang halus. Bagian tubuh yang kasar adalah bagian tubuh yang bisa dilihat, diraba, dicium. Bagian tubuh yang halus, hanya bisa di pikirkan, sampai pikiran tidak lagi sanggup memikirkannya.

Oleh Ida Pedanda Made Sidemen, tubuh disebut sebagai karang. Karang di dalam bahasa Bali, berarti ruang atau wilayah. Itu berarti, tubuh seperti negara kesatuan yang memiliki system kepemerintahan tersendiri. Menurut ajarannya, tubuh itu dianalogikan seperti kerajaan. Raja dari kerajaan tubuh, adalah pikiran. Raja ini memiliki sepuluh pelayan yang oleh para bijaksanawan di jamannya disebut sepuluh indriya. Kesepuluh pelayan pikiran itulah yang melayani Tuanku Raja Pikiran. Anggotanya terdiri dari unsur yang ada di mulut, tangan, kaki, dubur, kemaluan, telinga, kulit, mata, lidah dan hidung. Karena Tuanku Raja Pikiran dilayani oleh sepuluh pelayan, menurut ajarannya kesepuluh pelayan itulah yang mengikat Raja Pikiran. Jika Raja Pikiran tidak berhasil melepaskan ikatan pelayan, maka ia sendirilah yang akan menjadi salah satu anggota pelayan itu. Konsekuensi itu, mirip dengan manusia yang digigit vampire dalam film-film vampire, atau manusia yang menjadi zombie karena digigit zombie.

Oleh Ida Pedanda Made Sidemen, tubuh disebut sebagai karang. Karang di dalam bahasa Bali, berarti ruang atau wilayah. Itu berarti, tubuh seperti negara kesatuan yang memiliki system kepemerintahan tersendiri. Menurut ajarannya, tubuh itu dianalogikan seperti kerajaan. Raja dari kerajaan tubuh, adalah pikiran.

Bukannya tidak ada cara untuk melepaskan Raja Pikiran dari jeratan sepuluh pelayan menurut Shastra-shastra yang memuat tentang cara melepaskan. Hanya saja, metodenya pastilah sulit bagi orang-orang yang belum terbiasa. Salah satu metode dasarnya adalah sikap tubuh. Sikap itu bisa berdiri, duduk, terjungkir, nungging, dan lain sebagainya dan lain seterusnya. Salah duanya, adalah menyadari nafas yang sering dilupakan. Kedua dasar itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan, meskipun terlihat mudah untuk diterapkan. Tapi tentu saja itu tidak cukup, sebab langkah selanjutnya adalah melepaskan diri dari jajahan suka dan duka.

Mari kita hentikan dulu pembicaraan perihal Raja Pikiran itu. Cukup rasanya untuk berguru kepada pikiran sampai disana. Perlu ada jeda yang diberikan kepada diri sendiri sebagai hadiah. Jeda itulah jarak, dan jarak tidak lebih dari sekedar kekosongan yang penuh. Setidaknya tanda tanyalah yang memenuhi kekosongan bernama jeda itu.

Pada bagian akhir dari tulisan ini, bisa saja dikatakan bahwa orang yang menemukan gurulah yang menjadi murid. Jadi apakah ungkapan di awal tulisan ini bisa dibalik? Murid bisa ditemukan dimana saja jika seseorang telah siap menjadi guru, begitukah? Hubungan guru dan murid adalah hubungan yang sangat tidak sederhana, sebab keduanya saling melahirkan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *