Jika banyak sistem filsafat teologis bermula dari premis “tidak sempurna” menuju “sempurna”, atau dari “pendosa” menuju “orang suci, Tantra memiliki konsep yang sama sekali berbeda. Filsafat Tantra berdasar dari pemahaman dasar bahwa kita (dan semua mahluk) sudah sempurna adanya, namun kita hanya melupakan kesempurnaan tersebut, dan aksiologi sadhāna Tantra pun sederhana, yaitu bagaimana merealisasikan kesempurnaan tersebut di sini, saat ini. Inilah alasan kenapa jivanmukti atau “pembebasan” selama masih berada di dunia merupakan salah satu prinsip penting dalam Tantra, dan ini juga alasan kenapa dalam Tantra tidak ada perbedaan antara Bhoga (kenikmatan duniawi) dengan Yoga (praktik spiritual). Kalimat-kalimat tersebut mengandung paradoks memang; pertama, jika kesempurnaan sudah ada di sini dan saat ini, lalu apa gunanya melakukan sadhana atau praktik spiritual untuk merealisasikan kesempurnaan lagi? Atau, kesempurnaan yang bagaimana yang hendak direalisasikan melalui sadhana tersebut? Kedua, jika tidak ada batasan antara kenikmatan duniawi dengan spiritualitas, apakah ini berarti kita tidak perlu berspiritual dan menikmati hidup kita sejadi-jadinya sebagaimana seorang hedonis?

Salah Kaprah dalam Tantra

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan mengenal lebih jauh mengenai apa itu Tantra, ada baiknya kita mengenal dulu sedikit tentang apa yang “bukan” Tantra. Tantra, dewasa ini telah menjadi topik yang demikian populer di barat. Namun, jika kita mengetikkan kata pencarian tentang “Tantra” atau “Meditasi Tantra” di mesin pencarian seperti Google, maka yang keluar adalah berbagai informasi berkaitan seksualitas. Benar dikatakan George Feurstein, tingginya popularitas Tantra tidak selamanya diikuti pemahaman terkait topik bersangkutan (mungkin ini mengingatkan kita akan topik “Pengiwa” di Bali, topik yang nanti kita ulas secara lebih detail). Jika mengutip dari N.N. Battacharya, benar memang jika kita tidak akan bisa melepaskan topik mengenai seksualitas saat bicara tentang Tantra, namun memandang Tantra sebatas sebagai “Yoga Seks” adalah bentuk kesalahpahaman yang sangat keliru dan bahkan sangat jauh dari esensinya. Tidak lebih dari 1% saja dari total ajaran Tantra yang bicara seks. Alih-alih bicara mengenai pengoptimalan kenikmatan seksual, ada banyak sekte Tantra yang sukla-brahmacari, menjadi pertapa yang tidak menikah atau melakukan senggama seumur hidupnya seperti pengikut Tantra dalam golongan Atimārga dan Vajrayana. Sering kali, asosiasi antara Tantra dengan seks muncul akibat salah menyamakan antara Tantra dengan Kama Sutra dari Vatsyayana; yang satu adalah ajaran yang demikian luas dan kompleks, satu lagi adalah sebuah kitab tentang optimalisasi kenikmatan seksual, dan keduanya tidak berhubungan sama sekali.

Seksualitas memang ada dalam Tantra, salah satunya tertuang dalam Kaularnava Tantra, satu dari sekian banyak kitab Tantra —meski secara tradisional dikatakan ada 64 Tantra, namun klaim ini tidak bisa dibuktikan karena sejatinya ada jauh lebih banyak kitab, yang sayangnya 70%-nya sudah hilang. Seks (maithuna), madya (minuman keras) māṃsa (daging) matsya (ikan) dan mudrā, adalah lima praktik spiritual Kaula yang tertuang dalam Kitab Kaularnava Tantra, lima sadhana ini dikenal sebagai Panca Makara. Namun, tidak semua pengikut Tantra dari aliran ini mengikuti ajaran tersebut secara literal, karena ada juga yang mengikutinya secara simbolik—maithuna bukan soal persenggamaan tubuh fisik, namun “persenggamaan” antara Śiwa (Kesadaran) di Chakra Mahkota dengan Shakti (Energi) yang ada di Chakra Muladara, demikian seterusnya bagian Panca Makara lain memiliki makna simbolisnya sendiri-sendiri.

Kemudian, salah kaprah kedua soal Tantra adalah menganggap bahwa Tantra berarti sekte Shakta atau feminim yang khusus memuja Devi seperti Durga, Kali dan seterusnya. Ini pun tidak sepenuhnya benar, sebab masih ada Saiwa Tantra yang lebih mengarah ke maskulin—Tanpa meninggalkan aspek feminimnya, kemudian ada pula Vaisnawa Tantra yang dikenal dengan Pañcaratra, pemuja Ganesha atau Ganapatya, Sora dan seterusnya, kemudian ada Tantra Buddhis yang dikenal dengan Vajrayana, salah satu cabang dari Buddha Mahayana yang banyak berkembang di Tibet.

Memang dalam Tantra tidak dibuat tembok pembatas antara bhoga dengan yoga, namun tidak lantas menjadikan Tantra sebagai ajaran yang (sekedar) hedonis, apa lagi sampai dijadikan pembenaran untuk merasionalisasikan perilaku hedonis. Tantra tidak membedakan antara bhoga dengan yoga, dalam artian Tantra mendayagunakan segala elemen yang ada sebagai “sarana” dalam pencapaian spiritual. Di sini titik beratnya kembali pada apa yang tertulis di awal tulisan ini, untuk merealisasikan Siwa atau “Kesadaran akan Diri Sejati” yang universal dan bebas dari pengkondisian—lawan dari ahamkara yang adalah “kesadaran diri personal” yang penuh batasan dan pengkondisian. Bukan malah menikmati kehidupan dengan menenggelamkan diri pada batasan ahamkara semata. Pandangan hidup Tantris tidak bersifat Materialis apa lagi hedonis, namun “sinergis” antara apa yang saat ini ada dan keberadaan yang bisa direalisasikan nanti. Seimbang antara dharma kahuripan dengan dharma kamoksan.

Tidak ada perbedaan antara Bhoga dengan Yoga juga merupakan pembeda antara sistem filsafat Tantra dengan Vedanta. Tantra memandang kehidupan duniawi sebagai keberfungsian dari Shakti sebagai Maya Shakti, Shakti adalah realitas yang tidak berbeda dengan Siwa. Dalam Tantra kehidupan yang adalah ekspresi dari Shakti ini diekspresikan sepenuhnya (life your live to its fullest), karena memang demikian tujuan Śiwa dalam mengadakan dunia—untuk menikmati ekspresi diri-Nya sendiri. Sementara Vedanta, Maya dipandang sebagai Illusi yang membuat kita melihat kehidupan ini seolah ada, padahal hanya ilusi, sehingga para penganut Vedanta cenderung menjadi pertapa yang meninggalkan kehidupan yang dianggapnya palsu ini. Tentu kemudian, dalam vedanta ada batasan mana bhoga dan mana yoga.

Kemudian, salah satu miskonsepsi lain yang juga sering kali beredar, dan bahkan menjadi alasan kenapa di awal perkenalanya di dunia barat banyak sarjana yang menolak mempelajari Tantra, adalah anggapan bahwa Tantra adalah “Kitab Sihir”, atau sekedar klenik dan mistik yang mengawang-awang. Berbagai kekuatan supranatural yang lazim disebut siddhi memang menjadi salah satu topik penting dalam Tantra. Jika dibaca misalkan Vinaśika Tantra, sebuah Kitab Tantra “Kiri”, maka akan ditemukan berbagai macam “teknik sihir” sebagaimana yang lazim dijumpai dalam lontar-lontar Kewisesan di Bali. Kembali ke statemen awal tulisan ini, bahwa tujuan Tantra adalah merealisasikan kesempurnaan “Sang Diri Sejati (Śiwa)” yang “Maha Segalanya”. Tantra sebagai Sadhana-Śāstra atau “kitab aplikatif” tidak hanya mengkaji filsafat ini secara filosofis, namun juga secara praktikal. Dengan kata lain, pencapaian Siddhi atau berbagai kemampuan supranatural (Kawisesan) tidak lebih merupakan upaya untuk merealisasikan premis Tantra tentang ke-Śiwa-an di dalam diri. Namun, sekali lagi, tidak semua kitab Tantra berusaha mencapai perluasan kesadaran (tanoti) ini dengan berbagai metode supranatural—berusama memasuki Śiwa melalui Shakti—namun banyak pula yang lebih fokus untuk mengeksplokasi kesadaran itu sendiri.

Dalam Tantra jalur Vamacāra atau “Tantra Kiri” memang dikenal adanya Satkarmani yang menyajikan 6 (enam) ilmu ‘sihir’ yang bisa membantu mencapai apa yang hendak dicapai dalam kehidupan. Vashikarana (penaklukan; di bali banyak dikenal, seperti pengasih, penangkeb, pengalah dewa, dan lain sebagainya), Stambhana (penghentian; membekukan musuh; sejenis pepeteng kalau di Bali), Vidveshana (menciptakan permusuhan), Uccatana (menciptakan pertengkaran antara satu orang dengan orang lain), Marana (menciptakan kematian; pemati satru), Shanti (pendamaian; penjaga diri; sejenis pengeraksa jiwa kalau di Bali). Berbagai ritual ini adalah cara mencapai apa yang diinginkan dalam kehidupan, sekaligus cara untuk lebih membuktikan Shakti yang menjadi esensi dunia.

Ini baru beberapa saja dari miskonsepsi Tantra, namun semoga cukup untuk menjadi pengantar sebelum memahami Tantra, serta implikasi pragmatis dari pemahaman awal Tantra dalam tulisan ini.

Jadi, Apa Itu Tantra?

Dari banyaknya istilah “Tantra” menimbulkan miskonsepsi menggambarkan satu hal, yaitu luas dan kompleksnya istilah Tantra tersebut. Wajar jika salah satu peneliti Tantra, André Padoux mengatakan tidak mungkin Tantra bisa didefinisikan, atau setidaknya tidak ada satu definisi yang bisa disepakati oleh semua. Sementara benang merah mengenai apa itu Tantra dan apa yang bukan bisa diambil—secara umum—namun saat karakteristik dan katagori tersebut dikonfrontasi dengan literatur Tantra tertentu secara spesifik, bisa jadi malah tidak berlaku. Silahkan anda menyelami berbagai hasil studi dan hasil kajian para sarjana tentang Tantra untuk menelisik hal ini secara lebih mendalam. Tidak kurang, tokoh sekelas N.N Battacharya bahkan mengatakan kalau istilah Tantra adalah istilah yang rancu dan membingungkan.

Secara umum, sebagaimana diungkapkan Chitaranjan Chakravarti, kata Tantra biasanya mengindikasikan śāstra secara luas, karenanya setiap sistem filsafat bisa disebut dengan Tantra. Sebutan seperti Kāpila Tantra atau Sasti Tantra, Gautama Tantra dan lain sebagainya biasa dipakai untuk menunjukkan sistem filsafat yang dikembangkan Kapila, Gotama dan seterusnya, istilah seperti ini biasa dipergunakan. Kemudian, secara etimologis, kata Tantra berasal dari akar kata tan (menyebarkan), tatri atau tantri (menjabarkan). Kata tan adalah bentuk original tantri yang berarti menjelaskan. Karenanya konotasi dari istilah tersebut adalah segala macam diskusi sistematik di berbagai subjek keilmuan. Pernyataan lain mengungkapkan bahwa Tantra berasal dari kata tatri yang berarti “untuk memahami”. Sementara Banerji menjelaskan, kata Tantra dikatakan berasal dari akar kata tan (menyebarkan), yang secara tekstual dijabarkan sebagai “tanyate vistaryate jnanam anena” (yang dengannya pengetahuan menyebar/ meluas), beberapa yang lain mengatakan kalau Tantra berasal dari akar kata trai (menyelamatkan), dikatakan demikian karena Tantra melindungi pengikutnya (dari penderitaan dan samsara).

Salah satu definisi Tantra yang menarik disimak adalah sebagaimana dijabarkan oleh Svami Satyasangananda, dimana kata Tantra dijelaskan sebagai kombinasi dari dua kata Sansekerta, yaitu tanoti yang berarti perluasan dan trayati atau pembebasan, yang kedua kata tersebut mengimplikasikan bahwa Tantra adalah metode untuk meluaskan pikiran dan membebaskan energi potensial yang masih dorman (kundalini). Secara sederhana, definisi ini sekaligus menggambarkan kerangka berpikir Tantra dan tujuan yang hendak dicapainya.

Menurut M.P Pandit, Tantra adalah ajaran yang sangat penting yang juga disebut “Weda Kelima” dan merupakan literatur untuk jaman Kaliyuga (sementara Weda untuk Jaman Satya Yuga, Smrti untuk Jaman Treta Yuga, dan Purana untuk Jaman Dvapara Yuga). Tantra atau disebut juga dengan āgama-śāstra disebut juga dengan mantra-śāstra; juga dikenal sebagai vāma-mārga, tantra-mārga dan kaula-mārga. Namun Tantra juga tidak bisa begitu saja disamakan dengan Āgama-śāstra, karena tetap ada perbedaan antara keduanya. Namun keduanya sama-sama membahas mengenai sifat mistik Śiwa dan ekspresi simboliknya (serta perjalanan untuk mengidentifikasi diri dengan-Nya) dalam ritual dan praktik yoga: sederhanya, keduanya membahas mengenai Śivatattva. Sangat sering istilah Tantra dipakai untuk menunjukan jenis literatur Śākta dalam Tradisi Kula; yang mana nuansa dari asosiasi ini dibentuk oleh Kulārnava dan Śrīkula.

Secara spesifik, salah satu penjabaran Tantra yang banyak disepakati banyak pakar adalah pendefinisian Tantra sebagai Mantra Śāstra, atau ilmu tentang Mantra. Karenanya, Tantra-śāstra dan Mantra-śāstra adalah dua istilah yang saling menggantikan atau disandingkan beriringan. Dengan demikian, esensi dari Tantra adalah Mantra Yoga. Namun, meski mantra adalah esensi dari Tantra, perlu diingat bahwa tidak berarti pula definisi ini merefleksikan keseluruhan (literatur) Tantra yang ada. Setidaknya, satu hal yang bisa disimpulkan adalah, Mantra Śāstra merupakan porsi paling penting dari ajaran Tantra. Tantra Buddhis (Vajrayana) pun disinonimkan dengan Mantra-naya. Kita juga bisa menjumpai penyebutan ini secara eksplisit dalam salah satu Kitab Tantra Vajrayana di Nusantara, Sang Hyang Kemahayanikan.

[Disarikan dari Buku “Meditasi Tantra” oleh Putu Yudiantara]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *