Berbicara mengenai Tantra memerlukan kehati-hatian ekstra. Terutama pada jaman informasi yang memudahkan setiap orang mengakses berbagai keilmuan. Kemudahan informasi membuat proses belajar menjadi jauh lebih mudah. Kemudahan akses informasi tersebut menyebabkan kurangnya filter terhadap kualitas informasi yang beredar dan diserap kebanyakan orang. Termasuk informasi mengenai Tantra.

Mengingat bahwa Tantra adalah topik yang luas dan mendalam, yang dengan mudah bisa menyesatkan, maka pembicaraan Tantra perlu didudukkan dalam satu konteks tradisi yang spesifik. Rujukan yang dipakai dalam memetakan Tantra di satu tradisi tersebut pun harus bisa dipertanggungjawabkan. Tujuan kehati-hatian bukan perkara benar dan salah, namun kejelasan dan kejernihan sebuah topik. Bisa jadi semua benar, namun setiap kebenaran perlu didudukkan dalam konteksnya masing-masing.

Sering kali pembicaraan mengenai Tantra yang tidak didudukkan dalam teks dan konteks yang spesifik malah menjadi pembicaraan yang menyesatkan. Misalkan, bicara soal Tantra Nusantara namun yang dipakai rujukan adalah paradigma Tantrisme hasil “kemasan Barat”.[1] Tentu ini merupakan sebuah kebingungan yang akan menyebar sehingga semakin “merusak” warisan leluhur.

Arus informasi di era digital memudahkan mereka yang berjiwa komersil untuk mendapatkan produk informasi. Informasi itu dikemas dan dipopulerkan pada target pasar yang sesuai. Dalam bisnis, hal ini merupakan pertanda kemajuan. Namun dari segi śāstra, hal ini bisa jadi merupakan undangan kemunduran. Ilmu yang sebelumnya sakral kini menjadi viral. Hal ini bagus di satu sisi, namun sisi lainnya perlu juga diwaspadai.

Ilmu yang sebelumnya sakral kini menjadi viral. Hal ini bagus di satu sisi, namun sisi lainnya perlu juga diwaspadai.

Yoga dan Tantra adalah contoh dua ajaran kuno yang telah dikemas dan dibentuk ulang sedemikian rupa di Barat, sesuai dengan selera mereka. Sayangnya, kemasan dan hasil bentukan ulang itu malah sangat jauh dari ajaran awalnya. Sebagai ajaran baru yang berdiri sendiri, tentu tidak ada yang salah dengan berbagai franchise Yoga maupun Neo-Tantra. Namun mengatakan kedua produk tersebut sebagai ajaran yang juga diterapkan para leluhur di masa lalu, tentu juga keliru.

Memetakan Tantra Nusantara merupakan satu hal yang tidak mudah. Alasannya, karena kekayaan tekstual yang dimiliki demikian melimpah. Belum lagi aplikasi paradigma berpikir Tantra dalam berbagai konteks. Mulai dari konteks ritual keagamaan yang masih ajeg di berbagai belahan Nusantara—dengan berbagai nama dan istilah—sampai pada berbagai peninggalan sejarah berupa candi dan prasasti.

Mengingat Tantra adalah jalan personal, maka ribuan peninggalan teks lontar yang ada pun perlu dilihat dari kaca mata personal orang yang membaca (dan hendak menerapkan). Artinya, menyesuaikan aplikasi teks yang dibaca dengan tahapan hidup yang sedang dijalani, apakah di tahapan Dharma Putus ataukah di tahapan Dharma Kahuripan.

Kata “putus” berarti lepas, dan Dharma Putus berarti jalan kelepasan. Lepas dari semua dinamika kehidupan, lepas dari semua tugas dan tanggung jawab duniawi dan mendedikasikan sisa umur untuk merealisasi Sang Ketiadaan Agung (Paramaśūnya). Dengan kata lain, ini adalah jalan “kependetaan”.

Jika dalam Dharma Putus fokus utamanya adalah melepaskan dan mengosongkan, maka dalam Dharma Kahuripan fokusnya adalah mengikat dan mengisi. Kata “kahuripan” berakar dari kata “hurip”, artinya “hidup”; Dharma Kahuripan adalah mereka yang mengabdi pada kehidupan; mereka yang masih menjalani kehidupan duniawi dan berbagai tanggung jawabnya. 

Ajaran dalam teks Tantra pun bisa dipetakan menjadi tiga yakni tattwa, susila dan upakara. Tattwa adalah ajaran mengenai esensi realitas, atau nilai-nilai spiritual. Tattwa adalah filsafat tentang keberadaan. Dalam tattwa dijabarkan siapa sejatinya kita, hubungan kita dengan semesta, kenapa kita ada di dunia dan kenapa kita mengalami hidup sebagaimana kita alami saat ini. Susila adalah tatanan perilaku dan sikap keseharian. Susila menyangkut apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta siapa yang boleh dan tidak boleh melakukan. Upakara adalah ritual yang diselenggarakan. Singkatnya, sebuah ajaran perlu dipetakan nilai-nilai spiritualnya, kemudian aplikasi dari nilai tersebut dalam keseharian dan ritual keagamaan yang menjadi ekspresi nilai tersebut.

Di tataran tattwa, semua orang boleh mempelajarinya, sebab penjabaran tattwa (dalam hal ini Hierarki Tattwa) adalah pondasi paradigma berpikir dalam Tantra. Di tataran susila dan upakara perlu dilakukan penyesuaian berdasarkan tahapan kehidupan yang sedang dijalani. Susila dan upakara bagi mereka yang menjalani Dharma Putus tentu berbeda dengan mereka yang masih menjalani Dharma Kahuripan.

Jika perbedaan antara tattwa, susila dan upakara ini tidak dipetakan dengan jelas, maka akan muncul kerancuan. Seorang pendeta yang susila-nya seperti walaka (non-pendeta), atau walaka yang merasa berhak menjalankan pola hidup dan ritual seorang pendeta.

Teks-teks utama yang dipakai untuk memetakan paradigma Tantra dalam buku ini sejatinya adalah teks kependetaan. Dengan kata lain, diperuntukkan bagi mereka yang sudah melepaskan kehidupan duniawi. Namun, bukan berarti mereka yang masih menjalani kehidupan duniawi tidak boleh mempelajarinya sama sekali. Esensi ajaran yang membahas tattwa adalah pemahaman universal yang bisa dipelajari siapa saja. Namun cara seorang pendeta dengan seorang walaka dalam menerapkannya tentulah berbeda.[2]

Cara menerapkan ajaran Tantra bagi seorang pendeta (dharma putus) dengan cara seorang walaka yang masih menjalani kehidupan duniawi tentunya berbeda. Ini adalah hal penting yang perlu diperhatikan.

Kesimpulannya, kehati-hatian dalam membicarakan dan menerapkan Tantra setidaknya perlu melalui dua tahap. Pertama, memetakan apakah Tantra yang dibicarakan merupakan warisan leluhur terdahulu, ataukah hasil “kemasan barat”. Kedua, memetakan mana nilai-nilai filosofis universal dan mana penerapan yang sesuai dengan konteks kehidupan personal kita. Kerangka berpikir ini akan membantu menghindari kebingungan dengan mendudukkan Tantra dalam konteksnya masing-masing, alih-alih terbawa arus informasi tanpa difilter sama sekali.

[1] Salah satu contoh hasil “kemasan Barat” ini misalkan; (1) Asosiasi Tantra dan kenikmatan seksual,  sebagaimana dibahas sebelumnya; (2) Menganggap “Tantrisme” adalah sebuah “-isme” (ajaran) tunggal; (3) dan asosiasi Tantra mengenai Kundalini sebagai “ular melingkar” di Muladhara serta sistem 7 Chakra sebagai sistem standar.

[2] Jika mengikuti klasifikasi materi dalam teks Tantra (Śaiwa),  aspek Vidyā bisa dipelajari siapa saja sebagai pengetahuan,  namun yoga,  caryā dan kriyā memerlukan penyesuaian dengan tingkatan hidup (catur-ashrama).


CATATAN:

Dikutip dalam BUKU ILMU TANTRA BALI (BUKU 1) dengan sedikit penambahan. PEMESANAN BUKU, KLIK DI SINI.

Share on facebook
Bagikan Di Facebook
Share on whatsapp
Bagikan Melalui WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *