Hari Raya Nyepi jatuh setiap setahun sekali, dan secara garis besar memiliki tiga rangkaian utama. Pertama adalah Pangrupukan, yang dilakukan pada saat Tilem Kasanga. Pada hari ini pula banyak umat akan melasti ke Sagara, melakukan Caru dan Tawur serta malamnya mengarak Ogoh-Ogoh dengan iring-iringan berbagai gambelan. Pada hari ini dipenuhi berbagai macam keramaian. Esoknya, semua keramaian itu berhenti saat dilakukan Catur Bratha Panyepian, empat laku dalam menjalani nyepi, diantaranya; amati geni, amati karya, amati lelungaan dan amati lelanguan. Pada hari Nyepi, idealnya masyarakat tidak keluar rumah, tidak beraktifitas sama sekali, membiarkan jagad mengalami keheningan, baik jagad di dalam (bhuwana alit) maupun jagad di luar (bhuwana agung). Lalu, esoknya, adalah hari Ngembak Geni, yang berarti “menyalakan api”, keramaian dilakukan lagi, dan Tahun Baru Saka yang baru pun menyongsong.

Bicara soal “sepi”, banyak orang yang merasa tidak nyaman dengannya. Secara emosional pun, kondisi kesepian adalah kondisi yang paling tidak menyamankan. Kita terbiasa ada dalam keramaian, dan bahkan untuk beberapa orang, kecanduan dengan keramaian. Di satu sisi, keramaian di luar adalah cara yang biasa digunakan untuk mengalihkan dari suara-suara di dalam kepala; suara yang banyak mengungkap kekecewaan masa lalu, harapan yang tak terpenuhi, berbagai luka dan penyesalan. Karena kebisingan di dalam kepala menyakitkan, wajar kemudian kita berlari pada kebisingan di luar.

Namun kebiasaan mengabaikan kondisi tidak nyaman dalam diri dengan berbagai aktifitas eksternal adalah kebiasaan yang tidak sehat. Kebiasaan itu seperti membiarkan api dalam sekam, atau lebih parah lagi membiarkan bom waktu tetap menyala.

Saat berbagai rasa tidak nyaman, berbagai rasa sakit hati, beban emosional dan luka bathin diabaikan dengan berbagai aktifitas luar, ia tidak menghilang, hanya mengendap. Setiap saat ia akan menuntut perhatian yang semakin besar, sebab kondisinya semakin parah—ibarat luka yang dibiarkan lama-lama ia akan inveksi. Akibatnya, semakin luka di dalam menuntut perhatian, semakin kencang kita berlari ke luar, berlari untuk menghindarinya. Pola ini ibarat lingkaran setan yang bukan hanya akan merusak kesehatan mental-emosional, juga akan mempengaruhi kesehatan fisik.

Salah satu cara untuk melepaskan lingkaran setan itu dan menyembuhkan berbagai luka bathin adalah dengan berkaca pada tiga rangkaian Hari Raya Nyepi.

Mewujudkan Iblis Dalam Diri

Kita sering merasakan kegalauan yang seolah tak bersebab. Sebenarnya bukan tidak bersebab, namun kita tidak sadar dengan penyebabnya karena terlalu jauh dengan diri sendiri. Kita terbiasa mengabaikan berbagai kondisi bathin, sehingga sedikit pengertian yang kita miliki terhadap kondisi bathin itu. Kita terbiasa mengabaikan berbagai dorongan dan kebutuhan psikologis, berbagai luka emosional dan hal-hal sejenis. Akhirnya semua itu menjadi sisi gelap dalam diri, yang bukan hanya menyakitkan namun juga menakutkan.

Kapan penderitaan dan ketakutan oleh sisi gelap dalam diri akan hilang? Saat ia diakui keberadaanya, dinetralisir muatan emosi negatifnya. Serupa dengan pada Hari Pangrupukan, semua Bhuta-Kala diwujudkan dalam berbagai bentuk Ogoh-Ogoh, lalu diarak keliling desa, kemudian dinetralisir (dibakar) semua pengaruh buruknya, diberikan Pacaruan.

Kita perlu belajar “mewujudkan” berbagai sisi gelap dalam diri; penyesalan atas masa lalu, ketakutan akan masa depan, trauma dan dendam serta berbagai kondisi sejenis. Kita perlu belajar mengakui, menerima dan belajar bercengkrama dengan kondisi-kondisi tidak nyaman dalam diri itu.

Kenapa ia ada? Apa manfaat yang hendak dihadirkannya untuk kita? Bagaimana manfaat itu tetap didapat dengan cara yang lebih baik?
Menakutkan memang saat berhadapan dengan semua sisi yang (bisa jadi) seumur hidup berusaha kita hindari dan ingkari. Namun manusia biasanya takut dengan sisi yang tidak diketahuinya.

Tidak jarang kemudian akan terjadi abreaksi—luapan emosional tidak terkendali—akibat berhadapan dengan berbagai trauma yang lama mengendap itu. Tapi, selayaknya pada Hari Pangerupukan yang penuh teriakan dan ekspresi, biarkan emosi itu meluap, cukup pastikan ia tidak tereakpresikan dengan cara yang merugikan.

Banyak yang mengira menahan dan mengabaikan berbagai kondisi emosional akan menghilangkannya, padahal tidak. Justru dengan mengekspresikannya lah kondisi itu akan mengalami transformasi, menjadi somya. Tapi selayaknya air, ia tidak dibendung total, tidak juga dibiarkan mengalir tanpa henti. Sah-sah saja melakukan abreaksi melalui teriakan, melalui amukan dan lain sebagainya, asalkan di tempat yang tepat dan tidak ada yang dirugikan setelahnya.

Jika “iblis” di Bhuwana Agung diwujudkan dalam bentuk Ogoh-Ogoh, maka “iblis” dalam diri cukup diwujudkan dalam kata-kata; kata yang mengekspresikan kondisi bathin saat itu; “saya sedang sedih”, “saya sedang tertekan”, “saya sedang bingung” dan seterusnya. Ekspresi tersebut merupakan wujud pengakuan kita atas apa yang sedang kita alami, dan bukannya malah mengabaikannya.

Hening dan Menyalakan Api Makna Baru

Setelah melakukan abreaksi, setelah mewujudkan dan mengekspresikan berbagai beban emosional serta luka bathin, sampai puas, maka kita akan menjadi lemas. Keheningan dan kedamaian mulai muncul saat itu. Ibarat semua penyakit sudah dimuntahkan, maka rasa lega akan mengikuti.

Namun jangan merasa cukup hanya dengan rasa lega itu. Kita perlu melihat berbagai kondisi bathin yang tadinya kita hindari, dengan perspektif baru, dengan cara pandang baru, menjadikannya pembelajaran yang bisa jadi akan berguna seumur hidup kita.

Sebut saja kita pernah mengalami kegagalan bisnis, dan hal itu menyisakan trauma mendalam serta penyesalan tidak berujung. Setiap mengingat kejadian itu kita sudah menjadi kejang, sehingga kita menolak untuk memikirkannya, menjauh dan mengabaikan memori itu, berusaha memendamnya dalam -dalam. Lalu, saat secara sengaja “mewujudkan” kembali memori itu di depan kita, tentu akan muncul reaksi penolakan, membuat kita mengalami abreaksi. Kita berteriak, menangis dan seterusnya.

Tapi setelah teriakan berhenti dan air mata kering, dada menjadi lega. Dan setelah dada menjadi lega, cobalah lihat kembali pengalaman buruk itu dengan kejernihan, tidakkah ada yang salah dari cara kita memaknainya sehingga ia menjadi begitu menyakitkan? Lalu, tidakkah ada cara baru dalam memaknainya sehingga pengalaman itu lebih memberdayakan?

Biarkan saja api kebijakan baru muncul dengan sendirinya dari dalam diri, dari bagian diri yang memang lebih bijak. Tidak usah memaksakan diri menjadi bijak dan memikirkan makna baru untuk kejadian yang sudah lewat itu, cukup sediakan ruang bagi makna baru itu untuk muncul dengan sendirinya.

Cara kita menyediakan ruang bagi munculnya makna baru itu adalah dengan hening, cukup heningkan pikiran, amati lalu lalang mental dan berbagai fantasinya, berbagai imajinasi dan tayangan internalnya.
Seperti dinyanyikan Mpu Kanwa dalam Kakawin Arjuna Wiwaha, di kolam yang jernih bayangan bulan akan nampak dengan sendirinya. Dan proses penjernihan kolam bathin itu adalah dengan membiarkan semua gejolak emosional terekspresikan, lalu memberi diri momen untuk hening.

Anda akan terkaget sendiri bagaimana tiga proses sederhana ini—mengekspresikan, hening dan membiarkan api makna baru menyala—bisa sangat berguna dalam keseharian, bukan hanya dalam mengatasi berbagai luka bathin sebagai self-therapy. Misalkan saja, suatu hari anda mengalami stress di tempat kerja sementara pekerjaan sedang sangat menumpuk, cobalak lakukan ketiga langkah ini; ekspresikan stress anda, meski hanya dengan mengakuinya dalam kata-kata, “saya sedang merasa tertekan”, atau “kondisi emosional saya saat ini sangat buruk”. Akui, wujudkan dalam kalimat-kalimat demikian. Kemudian, tarik nafas panjang dan hembuskan, biarkan tubuh menjadi rileks. Lalu setelahnya, biarkan cahaya kebijakan menyala dari dalam diri, memberi anda kekuatan baru.

Kita terbiasa mengabaikan diri, terutama saat merasa tidak nyaman dengan diri, karenanya kita kemudian asing dengan diri sendiri, dan lama-kelamaan bahkan membentuk sisi gelap dalam diri.

Membiasakan diri dalam tiga pola sederhana ini adalah cara kita untuk memperlakukan diri secara lebih layak, dan lebih sehat secara psikologis.

Tradisi menyimpan banyak makna, dan makna yang disimpannya bisa diaplikasikan seluas-luasnya untuk kebahagiaan hidup kita di dunia. Semoga berguna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *