Siwa-Buda yang menjiwai kejayaan kerajaan Nusantara kini disebut Agama Hindu. Perjalanan panjang peradaban para leluhur sampai pada generasi milenial saat ini, terekam dengan baik pada beberapa tradisi tulisan dan lisan yang kita warisi. Tidak dapat kita pungkiri dalam perjalanannya ada beberapa penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan agar dapat beradaptasi dengan keadaan masyarakat. Langkah adaptif ini justru terkadang dituduh sesat dan menyimpang dari ajaran yang autentik. Pola diet dan gaya hidup merupakan wujud pengembangan tradisi, keilmuan dan keyakinan yang berlaku dalam suatu masyarakat. Munculnya gerakan pola diet Vegetarian beberapa waktu ini juga cenderung membuat image baru dan upaya branding yang baik terhadap Hindu, pola diet ini memunculkan nilai Agama Hindu sebagai agama yang ramah lingkungan, menolak kekerasan (Ahimsa) dan mencintai perdamaian.

Benarkah identitas baru ini wujud tingkat spritualitas atau hanya eksklusifitas yang cenderung latah ?

Perjalanan panjang toleransi dua keyakinan Siwa dan Buda di Nusantara, membawa banyak konsekuensi dalam kehidupan penganutnya. Pada saat itu tumbuh subur kepercayaan yang bukan hanya berinvestasi pada akhirat, tapi juga mengejar kedigdayaan agar mampu memberikan perlindungan terhadap diri sendiri dan masyarakat. Keyakinan sinkretis tersebut disebut dengan Tantra, Tantra yang berkembang pesat di Nusantara saat itu dibagi menjadi tiga, yakni Bhairawa Heruka di Padang Lawas Sumatera Barat, Bhairawa Kalacakra yang dianut oleh Raja Sri Kertanegara (Singasari), dan Bhairawa Bima dengan peninggalan Pura Kebo Edan di Bali.

Ritual yang paling kontroversi dalam praktiknya disebut dengan Panca Makara Puja, yakni Madya (meminum minuman keras), Mamsa (memakan daging), Madsya (memakan ikan), Mudra (melakukan tarian), Maithuna (melakukan persetubuhan). Pola ekstrim ini disebut-sebut sebagai cara praktis mencapai pembebasan, serta menunjukkan sebuah kekuasaan seorang penguasa. Ritual yang terkesan aneh ditekuni oleh Raja Singasari Sri Kertanegara, ketika kerajaannya diserbu oleh pasukan Jayakatwang dari Kediri. Sri Kertanegara bersama para pejabat kerajaan dan pendeta sedang tenggelam dalam kemabukan peribadatan Tantra ini. Adityawarman juga disebut-sebut menerima pelantikannya ditengah-tengah lapangan sembari duduk di tumpukan bangkai dan meminum darah, akan tetapi bagi penganut Bhairawa hal ini sangat semerbak aromanya. Dalam Sumatera Tempo Doeloe Friedrich Schnitger juga menyebutkan sebelum kedatangan Bangsa Eropa, kanibalisme adalah hal yang lazim.

Penekun Tantrayana dapat melangkah dalam kemajuan spiritual melalui dua jalan, jalan kanan atau lumrah disebut Prawerti dan jalan kiri disebut Niwerti. Dalam amalannya Prawerti menganjurkan penekun untuk menghindari perilaku ekstrim, dimana bakti dan penyerahan diri secara total menjadi kunci yang teramat penting untuk mencapai pembebasan. Sementara Niwerti mewajibkan penekun untuk melakukan Panca Makara Puja untuk memperoleh pembebasan, usaha ini dimaksudkan untuk menaklukkan seluruh kekuatan material termasuk kematian, sehingga untuk mengatasi hal tersebut digunakan eksistensi kekuatan keraksasaan (demonic). Keseluruhan praktek Niwerti menurut H.B. Sarkar merupakan tujuan pragmatis agar mampu mengatur kekuatan alam sehingga mampu memberikan perlindungan terhadap rakyat, keadilan, kedamaian dan kesejahteraan.

Bubuksah dan Gagakaking

Relief Bubuksah dan Gagakaking yang terdapat pada Candi Penataran Blitar, Candi Surowono Kediri, Lontar Bubuksah dan catatan Van Stein Callenfel bercerita mengenai dua pertapa bersaudara yang semula bernama Kebwamilir dan Kebwakraweg. Keduanya meninggalkan wilayah Kediri untuk menimba ilmu kepada seorang pertapa bernama Sang Jugulwatu. Pada saat proses pendidikan tersebut Kebwakraweg ternyata lebih menguasai filsafat etika, sedangkan kakaknya Kebwamilir lebih berorientasi pada kelepasan. Diakhir proses tersebut keduanya ditasbihkan melalui proses Diksa oleh gurunya. Yang paling tua berganti nama menjadi Gagakaking dan si bungsu berganti nama menjadi Bubuksah.

Setelah mendapatkan seluruh pelajaran ruhani dan kelepasan, keduanya ingin melanjutkan pertapaan pada masa Purnama Kapat. Gagakaking mengambil amalan Ambherawi bertapa dengan ketat, melakukan pola diet vegetarian dan menolak segala kepuasaan duniawi. Namun berbeda dengan adiknya Bubuksah yang mengamalkan Ambherawa, dia bertapa dengan menikmati segala kepuasaan duniawi, memakan segalanya (sarwa baksa) yang terjebak dalam perangkapnya. Melihat keseriusan keduanya dalam bertapa Dewa Siwa / Bhatara Guru berkenan mengabulkan permintaan keduanya untuk memperoleh pembebasan. Bhatara Guru turun ke dunia mengambil wujud macan putih bernama Kalawijaya. Kalawijaya pertama turun menguji kesungguhan hati Gagakaking untuk mencapai pembebasan, namun Gagakaking merasa belum siap untuk dimakan oleh Kalawijaya dan menyarankan Kalawijaya mencari adiknya Bubuksah untuk dimakan. Bubuksah yang bertemu dengan Kalawijaya begitu siapnya menghadapi maut, seketika Bubuksah diterbangkan ke nirwana dengan duduk di tubuh Kalawijaya sedangkan Gagakaking hanya memegang ekor Kalawijaya . Secara sederhana cuplikan cerita tersebut berpesan bahwa ketulusan hati, perilaku yang jujur, serta tidak terikat pada dunia akan lebih cepat mencapai pembebasan daripada olah spiritual yang ketat tanpa mempedulikan tingkah laku dan cenderung terikat pada hasil usaha tersebut yakni pembebasan (surga).

Dua jalan tersebut memiliki peluang yang sama dan saling melengkapi. Tantrayana jalur kanan dan kiri memang terlihat berbeda secara amalan, tapi secara hakikat keduanya diperlukan dalam pendakian seorang penekun. Pola diet ekstrim dua amalan ini sebenarnya jika dilihat dari kaca mata kedokteran kurang tepat jika diterapkan secara berlebihan. Memakan segalanya tanpa membatasi keinginan kita akan menyebabkan berbagai macam masalah penyakit tidak menular seperti diabetes, dislipidemia, stroke, serangan jantung, bahkan sirosis/kanker hati. Melakukan hubungan seksual secara berlebihan juga dapat meningkatkan kejadian penyakit menular seksual. Di sisi lain diet ketat vegetarian juga dapat menyebabkan tubuh kekurangan mikronutrien dan akhirnya menyebabkan berbagai penyakit seperti anemia, kekurangan gizi, penyakit infeksi akibat kurangnya imunitas tubuh.

Bagaimana kita mampu berkarma baik ketika tubuh dalam keadaan tidak sehat ?

Dengan demikian pola hidup yang seimbang telah diwariskan dalam kearifan kearifan Nusantara bertujuan  agar kita mampu hidup dengan baik. Tidak ada kesempatan untuk memunculkan pertentangan, ketika kita melihat kehidupan beragama kita dengan kaca mata Nusantara. Saat ada pemahaman yang dipaksakan akibat sudut pandang bukan Nusantara, seketika juga lahir pertentangan baru. Sehingga tenaga kita akan terporsir hanya untuk meladeni konflik tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *