Tubuh manusia dalam konsep Hindu Bali tidak bisa dilepaskan dari tubuh semesta (alam). Banyak ahli yang mendukung konsep tersebut, salah satunya astronom Carl Sagan pernah menyebutkan “Kita adalah jalan bagi alam semesta mengenal dirinya sendiri. Beberapa bagian keberadaan kita mengetahui asal kita. Kita ingin kembali. Dan kita bisa, karena kosmos juga ada dalam diri kita. Kita terbuat dari bintang”. Tentunya satu kesatuan ini tidak hanya dalam tataran konsep, secara terperinci para ilmuwan mampu menjelaskan asal muasal dan terjadinya penciptaan. Begitu juga Hindu Bali yang telah lebih dulu menuangkan sebuah gagasan bahwa tubuh manusia tersusun dari aksara.

Badan jasmani terbentuk melalui pertemuan sperma dan ovum (sel telur), sperma yang disebut dengan kama petak merupakan lambang dari Bhatara Smara. Unsur maskulinitas ini identik dengan langit atau Bapa Akasa dilambangkan dengan aksara Ang. Ovum disebut dengan kama bang personifikasi dari Bhatara Ratih, unsur feminim yang identik dengan tanah atau Ibu Pertiwi dilambangkan dengan aksara Ah. Pertemuan antara Sukla (sperma) dan Swanita(ovum) melalui persenggamaan ataupun rekayasa (bayi tabung) menghasilkan manik yang menjadi cikal bakal (zygot) dari manusia.

Ovum akan keluar dari ovarium pada fase ovulasi, dimana sebelumnya telah didahului proses menstruasi dan pembentukan sel telur. Sel telur yang keluar dari ovarium akan berjalan melalui saluran untuk menuju rahim, indung telur yang tersisa akan mengeluarkan hormon yang berguna untuk mempertahankan embrio (manik) jika terjadi pembuahan. Pada fase ovulasi inilah disebut dengan masa subur, ketika terjadi fertilisasi (pembuahan) keduanya akan disebut Sang Bubur Rumaket dan akan berkembang menjadi zygot/manik atau yang disebut dengan Sang Antigajati. Perlahan manik akan menempel pada garbha (ruang rahim) dan akan mengalami pertumbuhan sampai terbentuk jabang bayi/ Sang Pratimajati.

Pada minggu kedua Catur Sanak sudah mulai terbentuk, dimulai dari pembentukan ruang amniotica (tempat dari yeh nyom/ketuban). Ketuban dapat melindungi janin dari goncangan dari luar kandungan ibu dan apabila jumlahnya berlebih atau malah berkurang dapat menjadi salah satu tanda bahwa janin mengalami kelainan.  Kemudian manik yang menempel pada rahim akan menginvasi lapisan rahim sehingga manik dapat terbenam dalam rahim. Pada saat proses invasi, lebih spesifik terjadi pada hari ke 11 dan 12 terbangun komunikasi antara manik dengan rahim, komunikasi agar manik bisa mendapatkan nutrisi dari ibu, komunikasi ini disebut dengan uteroplacental circulatioan. Hal ini juga akan menjadi cikal bakal terbentuknya dua Catur Sanak lainnya, yakni ari-ari/plasenta dan rah/ darah.

Mengakhiri proses invasi akan dikeluarkan hormon hCG (Human Chorionic Gonadotropin) hormon ini nantinya sangat berguna untuk mendeteksi adanya kehamilan, namun fungsi utamanya adalah untuk memelihara kehamilan. Aktifitas hormon ini bersama dengan hormon kehamilan yang lain menimbulkan gejala mual dan muntah pada seorang ibu hamil.

Dalam Lontar Anggastyaprana dijelaskan ketika Sang Anggajati terbentuk setelah mendapatkan restu dari Sang Hyang Nilakanta, kemudian para dewa termasuk Nawa Dewata akan melakukan tugasnya masing-masing untuk merubah Sang Anggajati menjadi Sang Pratimajati. Kejadian ini berawal pada minggu ketiga kehamilan dimana zygot sudah menjadi embrio kemudian akan membentuk tiga lapisan primordial diantaranya lapisan paling dalam(endodermal) akan menjadi pelapis dari organ dalam, lapisan tengah(mesodermal) menjadi tulang, otot, jantung dan organ dalam lainnya serta lapisan paling luar(ektodermal) akan menjadi sistem saraf pusat, perifer, mata, gigi rambut dll.  Pembentukan organ-organ tersebut terus berlanjut sampai minggu keempat dan seterusnya hingga minggu kesembilan kehamilan dimana embrio akan berubah menjadi fetus/janin.

Dimulai dari minggu kesembilan wajah janin dan beberapa organ sudah terbentuk namun belum sempurna dan ukuranpun belum proporsional. Perlu beberapa minggu lagi untuk janin menyempurnakan dirinya. Lapisan lemak(lamas/vernixcaseosa) bagian dari Catur Sanak yang terakhir akan terbentuk di minggu ke 17-20, dimana lapisan lemak ini akan berfungsi melindungi kulit janin dari paparan cairan ketuban.

Pada minggu ke 26 sistem saraf pusat (otak dan tulang belakang) sudah cukup matang untuk mengatur sistem pernafasan utamanya paru-paru sekiranya sudah mampu untuk bernafas di luar kandungan serta sudah dapat mengatur suhu tubuh. Kelahiran pada minggu-minggu ini (premature) dapat saja terjadi namun membutuhkan perawatan yang intensif untuk dapat menjaga keberlangsungan kehidupan bayi. Umur kehamilan disebut ideal untuk persalinan sekitar minggu ke 37-40 (280 hari), lebih dari minggu tersebut dengan post mature.

Catatan singkat mengenai pertumbuhan zygot (manik) tersebut, merupakan wujud pengejawantahan bahwa tubuh menyimpan informasi-informasi alam yang dirangkaikan dengan aksara kehidupan. Manusia membawa informasi genetis dari kedua orang tuanya (kawitan) yang diwakili dengan aksara Ang Kara dan Ah Kara berkembang terus menerus sehingga membentuk formasi aksara yang begitu kompleks yang kita dapat lihat pada rerajah rurub kajang pada saat upacara pengabenan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *